I Just wanna Say I Love You [part1]

Gambar

Main cast        : Bae Suzy, Park Chanyeol

Genre              : Romance

Duration         : Twoshoot (?)

Rating             : PG-15

WARNING!

Typo(s) everywhere.!. Cerita absurd dan gag jelas.!.

Suzy Pov

Semua masih sama, hatiku dan rasa cintaku bahkan tak berkurang sepersenpun, namun satu yg kusadari dirimu tak lagi berada disampingku hingga merubah segalanya.

Kuhembuskan nafas beratku berkali, berharap segala beban dan ganjalan dihatiku dapat berkurang atau menghilang. Huft, aku menatap taman yg tepat tersuguhkan dihadapan mataku. Kusandarkan tubuhku disofa ruang tv lalu kembali kuedarkan pandanganku keluar jendela. Sebuah ayunan yg terbuat dari kayu jati nampak kosong dan berdebu karena sudah lama tak digunakan, ayunan sederhana yg terletak dibawah pohon itu nampak tua dan tak terurus. Pikiranku melayang jauh, menerawang kemasa lalu.

Aku berlari sambil memegang seloyang kue coklat hasil eksperimenku hari ini, dengan langkah riang aku menuju taman belakang, membuka pintu yg terbuat dari kaca lalu tersenyum simpul kepada sesosok namja yg tengah memejamkan matanya dengan headset dikedua telinganya. Aku berjalan hati-hati, berusaha menyamarkan langkahku.

“OPPA!” kutarik headset yg menghalangi pendengarannya lalu berteriak tepat disebelah telinga kirinya, ia membuka matanya seketika dan berjengit kaget karena teriakanku yg terlampau keras itu. Aku hanya terkekeh pelan melihat wajahnya yg memerah.

“Ya! Eish” namja itu menggaruk telinganya yg sepertinya sedikit berdengung, sekali lagi aku tertawa melihatnya memasang wajah marah yg dibuat-buat.

“mianhe oppa ah aku buat kue coklat favoritmu” aku tersenyum manis sambil duduk disebelahnya, kuletakkan seloyang kue coklat dipangkuannya. Dia memandang kue buatanku lalu berganti memandang wajahku, wajahnya berkerut dan itu membuatku sebal. Ah pasti dia meragukan kemampuann memasakku, terlihat sekali dengan ekspresi wajahnya yg tidak yakin dengan hasil karyaku tersebut.

“oh ayolah oppa, tampilannya memang seperti itu” aku melirik kue buatanku yg sepertinya lebih mirip dengan gundukan itu “rasanya tak seburuk penampilannya” aku masih mencoba membujuk namja itu dengan senyuman termanis andalanku.

“ne, ne aku coba. Ca” ia menyuapkan sesendok kedalam mulutnya, aku menatapnya dengan harap-harap cemas. Oh jantungku berdebar rasanya seperti menunggu hasil ujian, aku harap rasanya kali ini akan baik-baik saja. Ia menoleh dan hanya menampakkan senyuman tipis dan ekspresi yg sulit kuartikan.

“enak? Bagaimana?” aku penasaran berat dengan rasanya, jujur saja aku juga belum mencicipinya karena aku sendiri sudah merasa kenyang begitu melihat penampilan luar kueku itu.

Kuhirup dalam-dalamoksigen disekitarku dengan rakus lalu kuhembuskan nafasku dengan kasar, air mata mulai berdesakan memenuhi kelopak mataku. Aku menepuk pipiku dengan sedikit kasar, mencoba menyadarkan pikiranku agar melepas segala kenangan yg mengingatkanku dengan namja itu.

Aku melangkah gontai, menyibak kain putih yg menutupi beberapa lampu dan meja makan. Kuedarkan pandanganku kesegala sudut rumah yg sudah kutinggalkan lebih dari 1 tahun yg lalu. Dan kini aku kembali, aku sendiripun tak tahu alasan apa yg membuatku ingin menempati rumah ini, bahkan aku belum dapat melepaskan bayangan namja itu. Wajahnya, senyumannya, tingkah lakunya masih terekam jelas dalam ingatanku. Bahkan mungkin kenangan itu dapat kembali dengan mudah dan membuat hatiku semakin sakit bila aku kembali kerumah ini. Entah kenapa, bila orang-orang bertanya apa alasannya, aku pun tak yakin apa aku bisa menjawabnya. Oh, kenapa perasaanku harus serumit ini.

Aku tersenyum getir, sedikit kugigit bibir bawahku guna menahan perih yg kini menyeruak keluar. Kutatap nanar sebuah kalung yg tergeletak dilantai, sedikit berdebu dan dingin, itulah kesan yg kudapat sesaat setelah aku memungun kalung berliontin sayap itu.

“ah, ternyata jatuh disini”

Aku mengangkat bantal satu persatu, menunduk dan menyisir kolong-kolong kasur, bahkan menggeser sofa ruang tv. Kehembuskan nafas jengkel karena tak menemukan apa yg kucari. Kusisingkan lenganku keatas dan menguncir rambutku sembarangan hingga menyisakan beberapa helai yg tak terikat.

“chagi cari apa?” tanya seorang namja tampan sembari menhempaskan tubuhnya disofa merah lalu menyalakan acara televise.

“kau lihat kalungku?” aku berdiri dihadapannya dan menatapnya dengan penuh harap.

Namja itu mengalihkan pandangannya dan menatapku “kalung? Kalung yg mana?” ia menaikkan sebelah alisnya. Ck, namja ini menjawab dengan pertanyaan, benar-benar tidak membantu. Aku mendengus sebal lalu berjalan menuju dapur dan kembali mencari kalungku disana.

“Kalung? Kalung seperti apa?” ia masih berteriak dari ruang tv, aku memutar bola mataku sebal. Dia benar-benar tak membantu, ah bodohnya aku bertanya pada namja pelupa seperti dia, sudahlah sepertinya aku memang harus mencarinya seharian ini dan hanya sendiri.

Author Pov

Suzy berjalan perlahan menuju kampusnya, ia menyusuri trotoar dengan pandangan kosong sepanjang jalan. Beberapa kali yeoja cantik dan tinggi itu menabrak pejalan kaki lainnya, namun ia hanya diam dan terus berjalan tanpa ada niat meminta maaf. Pandangan yeoja itu terlihat sayu saat ia tepat berada ditaman kampusnya, matanya terpaku pada satu titik, sebuah pohon besar disudut taman yg jauh dari kesan ramai.

Bayangan itu kembali lagi, berdesakan keluar hingga terputar seperti film yg sudah rusak. Suzy melihat dirinya sendiri sedang membaca sambil bersandar dipohon, tangan kirinya memegang buku dan tangan kanannya menggenggam segelas susu strawberry kesukaannya. Ia tersenyum, tersenyum ada halusinasinya sendiri. Menatap betapa bahagianya dia dulu. Kini seorang namja yg sudah sangat ia hapal berjalan dan duduk disebelah dirinya yg satunya. Namja itu meraih buku berwarna merah yg ia pegang.

“oppaa, aku sedang membacanya” rengek Suzy pada namja tampan yg masih setia menjauhkan bukunya, sekali lagi yeoja cantik itu hanya dapat tersenyum tipis dan menahan rasa rindu yg membuncah saat melihat bayangan masa lalunya yg terputar dihadapannya.

Suzy menggelengkan kepalanya, ia menarik kembali kesadarannya lalu berjalan menuju kelas yg akan dimulai 20 menit lagi. Dilihatnya seorang namja tinggi menjulang berlari kecil kearahnya, segera ia membalikkan badan dan memutar arah, berharap namja itu tak menyadari keberadaanya.

“Suzy-ssi” teriak namja itu, ah sial ia terlambat berlari dan menghilangkan jejaknya hingga namja yg kerap dipanggil Chanyeol itu sudah memanggil namanya dengan suara lantang.

“bukankah kelas sebentar lagi dimulai, kajja kita kesana bersama” tanpa izin ataupun angukan kepala Suzy namja itu sudah menarik pergelangan tangannya dan menyeretnya kekelas yg terletak dilantai dua. Yeoja berambut panjang itu hanya memandangi tangan kokoh yg terus menggenggam pergelangannya,, ocehan namja tinggi yg bagaikan burung itu seperti tertelan angin, semua terasa hampa baginya.

…………………………

Sekali lagi Suzy harus merasakan kehampaan dan kesunyian dihari yg begitu cerah itu sendirian, yeoja itu duduk melamun dipojokan sebuah café yg dulu merupakan salah satu tempat favoritenya. Sudah lebih dari satu tahun ini ia tak menginjakkan kakinya kedalam café yg dulu tak pernah absen ia datangi tiap minggu. Setelah seorang waiters yg sudah ia kenal meletakkan pesanannya, Suzy meraih segelas jus strawberry dan meminumnya perlahan, menikmati setiap ingatan yg muncul.

“oppa, jus disini enak sekali” Suzy membelalakan matanya girang setelah ia mencicipi segelas jus strawberry. Namja yg duduk didepannya itu mengalihkan pandangannya dari layar handphone lalu mengerutkan dahinya.

“jinjja? Ah benar, enakkkk” namja itu mengacungkan kedua jempolnya keatas tanda setuju, Suzy mengangukkan kepalanya seraya mengeluarkan eyesmile andalannya.

“mulai sekarang café ini adalah café favoriteku. Kita wajib kesini setiap minggu” Suzy memasang aegyo berharap namjachingunya itu menyetujui usul kekanak-kanakannya. Namja itu memicingkan matanya namun seketika ia tersenyum lembut dan mengangukkan kepalanya, Suzy bersorak girang hingga beberapa pengunjung memandanginya.

……………………….

Chanyeol Pov

Aku masih setia membaca setiap jengkal kata-kata yg tertulis dibuku tebal bersampul hitam ditanganku. Huft, kenapa tugas dari Jung saem begitu sulit, bila saja aku secermat Chen tentu saja aku dengan mudah memahaminya, andai saja otakkku seencer Suzy pasti dengan mudah pula aku menyelesaikan tugas guru galak itu. Hah, terlalu banyak berandai-andai. Kudongakkan kepalaku sejenak, lalu sekelebat bayangan yg kuyakini itu adalah Suzy tertangkap oleh indra pengelihatanku. Dengan segera, kututup buku sialan ini dan berlari mengejar Suzy.

Yeoja itu sangat cantik dilihat darimanapun, bahkan dari belakang yg hanya kelihatan rambut panjangnya yg tergerai itupun sudah membuat jantungku berdebar. Aku memegangi dadaku, dan tersenyum bodoh menatap punggung Suzy dari belakang. Dug, dug, aku bisa gila bila seperti ini. Park Chanyeol sadarlah, jangan terhanyut terlalu dalam.

Aku terus mengikutinya dari belakang, tersenyum bodoh walau hanya memandang yeoja itu dari belakang. Mataku tak bisa beralih darinya sedetik pun, aku tak tahu sejak kapan perasaan seperti ini muncul setiap aku melihat Suzy, bahkan aku tak ingat sejak kapan aku tertarik pada yeoja judes itu. Tapi yg kutahu satu, aku menyukainya.

“Hujan….” Suzy bergumam kecil seraya mengadahkan tangannya keudara, aku masih setia menguntit yeoja itu, berdiri agak jauh dari tempatnya saat ini, memandangnya diam-diam dan menunggunya sampai ia masuk kedalam bus yg selalu ia naiki bila pulang dari kampus. Kuedarkan pandanganku, tak banyak orang yg sedang menunggu dihalte saat ini. Hanya dua orang yeoja sma, aku dan Suzy.

Author Pov

“hah…” Suzy menghela nafas kasar untuk yg kesekian kalinya, ia memandang sendu jalanan dihadapannya yg nampak sepi karena hujan mengguyur cukup deras, diangkatnya sekali lagi tangan kanannya. Ia memejamkan matanya, menikmati setiap tetes air yg jatuh dan menyentuh pori-pori kulitnya. DINGIN. Satu kata yg ia rasakan, ia membuka matanya dan tersenyum miris. Oppa bogoshipo.

Chanyeol masih setia mengamati yeoja cantik yg berdiri tak jauh darinya, ia mengerutkan dahinya heran saat melihat ekspresi sedih yeoja cantik berambut panjang itu, memang Suzy tak pernah tersenyum, ah lebih tepatnya ia selalu miskin ekspresi. Tapi yeoja itu juga tak pernah menunjukan muka sedih seperti itu. Demi apapun Chanyeol benar-benar penasaran, segala tentang Suzy benar-benar membuatnya memeras otak khawatir.

“tanganmu tak dingin?” tanya Chanyeol lembut setelah ia menggeser tubuhnya beberapa langkah, namja itu memutuskan mengajak bicara Suzy. Diam dan mengamati yeoja itu bukan gayanya.

Suzy menurunkan tangannya dan tersentak kaget, ia menoleh menatap Chanyeol datar, namja didepannya itu hanya menggerutu pelan melihat ekspresi datar Suzy yg selalu didapatnya. Tak bisakah ia mendapat ekspresi berbeda, jujur saja ia benci tatapan tanpa emosi, kosong dan hampa itu. Tak cocok dengan manic mata indah Suzy, yah begitulah menurut Chanyeol.

“lihat wajahmu bahkan pucat, pasti kau kedinginan” Chanyeol meraih tangan Suzy, menempelkan kedua tangan dingin itu kepipinya agar lebih hangat. Suzy hanya diam, diam tanpa ekspresi, tak ada niatan menarik tangannya ataupun menghentakkan tangan Chanyeol. Ia menatap namja tinggi didepannya dengan tatapan kosong, sekelebat bayangan masa lalu muncul kembali.

“dingin sekali” Suzy mengusap-usapkan tangannya lalu meletakkannya dikedua pipinya sendiri, ia terus meniup tangannya berharap rasa dingin itu dapat berkurang barang sedikit. Ia mengedarkan pandangannya, hujan turun begitu deras, dalam hati yeoja itu merutuk cuaca menyebalkan seperti ini.

“aku benci hujan. Arghh dingin sekali” yeoja itu mengeratkan mantel bulunya lebih erat seraya berteriak tak jelas.

Seorang namja tampan berjalan dari kejauhan dengan paying kuning kesayangannya, ia tersenyum senang saat mendapati yeoja yg dicarinya sedang berteduh dihalte sendirian. Dengan perlahan namja itu mendekati yeoja cantik yg nampak menggerutu sendirian.

“changi” panggil namja itu saat ia sudah berada tepat disamping Suzy, yeoja itu menoleh, senyuman merekah diwajah dinginnya.

“oppa! Kau menjemputku eoh” ujar Suzy girang saat mendapati namjachingunya sudah berdiri disampingnya dengan paying kuning pemberiannya 2 bulan yg lalu. Namja itu menganguk seraya tersenyum lembut.

“kau sudah pulang? Apa tak ada jam kuliah lagi?” heran Suzy karena biasanya namjachingunya itu masih setia dikampus jam-jam segini, ya namjanya itu memang seorang mahasiswa, umur mereka terpaut 3 tahun.

“aniyo, kajja kita pulang” namja itu menggeleng lalu memagang tangan Suzy, mengajaknya untuk segera pulang.

“chankamma oppa, lihat hujannya deras sekali. kau hanya bawa 1 payung. Nanti kalau kau basah dan sakit bagaimana? Kita tunggu sampai hujannya lebih reda ne?” ujar Suzy panjang lebar.

“ne, ne.” namja itu hanya menganguk-angukan kepalanya, ia tersenyum senang memandang Suzy. Walau kadang yeoja itu akan cerewet seperti tadi, namun dibalik semua sikap itu Suzy selalu mengkhawatirkan dirinya.

“kapan hujannya reda?” gerutu Suzy sambil mengadahkan kedua tangannya keudara, ia menangkap setiap tetes air yg turun.

“eish, tanganmu nanti dingin” namja itu menarik tangan Suzy dan mengambil sapu tangan hitam disakunya. Ia mengelap tangan putih yeoja itu dengan sabar, Suzy memandang perlakuan manis namjanya dengan senyuman bahagia.

“masih dingin?” namja itu mendongak menatap Suzy, yeoja itu menganguk dan seketika namjachingunya itu menempelkan tangan Suzy dikedua pipinya. “lebih hangat?” tanyanya sekali lagi, Suzy terkekeh pelan seraya menganguk-angukan kepalanya.

“bisnya sudah datang” Suzy tersadar saat sebuah bus berhenti, ia segera menarik tanganya dari pipi Chanyeol. Tanpa mengucapkan apapun ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menaiki bus.

“sulit sekali eoh” gumam Chanyeol seraya memandang sendu bus yg perlahan melaju dan meninggalkannya yg masih berdiri dihalte. Ia tersenyum dan berjalan perlahan, meninggalkan halte menembus gerimis.

TBC

Ini mungkin akan berakhir pada chap 2, judulnya aja twoshoot :D. Jangan lupa tinggalkan jejak karena kelanjutan ff ini tergantung respon kalian 🙂. Kalau peminatnya sedikit dengan berat hati aku gag bisa ngelanjutin. entah kenapa sekarang aku orangnya mood-moodan, mood aku buat ngelanjutin cerita2 sebelumnya bisa ilang kapan aja. salah satu faktornya mungkin karena siders. jadi kalau mau dilanjut silakan tinggalkan respon kalian, kan percuma kalau aku ngelanjutin eh gag ada yg baca 😦

Thankyou for good readers. I Love You all :* :*

Advertisements

13 thoughts on “I Just wanna Say I Love You [part1]

  1. Siapa namjachingu suzy itu?..
    Knp suzy jdi pemurung?..
    Apa namja itu meninggal or menghianati suzy?..
    Wah chanyeol harus extra berusaha tu utk dpt hati suzy.
    Lanjut thor..

  2. Itu namjanya suzy siapa? Trs kmn? Hmm.. Msih bnyak bkin kepo thor, tp bagus ff nya..
    Kasian suzy msih blom bsa moveon 😀
    Nextnya thor 🙂

  3. Pacarnya suzy yg dulu siapa ? Kayanya suzy ditinggal mati deh sma pacarnya itu. Smoga chanyeol bsa buat suzy move on. Next ditunggu thor, semangat^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s