Waiting

miss-A-Suzy-Hush-2

Title                 : Waiting

Main cast       : Bae Suzy (Miss A), Kim Jongin (EXO), Park Chanyeol (EXO)

Genre               : Sad?

Rating              : PG-15

W.A.R.N.I.N.G

Typo(s) everyhwhere. Cerita absurd dan aneh.

Tulisan bercetak miring berarti masa lalu

Suzy Pov

Semua masih sama, hatiku dan rasa cintaku bahkan tak berkurang sepersenpun, namun satu yg kusadari dirimu tak lagi berada disampingku hingga merubah segalanya.

Kuhembuskan nafas beratku berkali, berharap segala beban dan ganjalan dihatiku dapat berkurang atau menghilang. Huft, aku menatap taman yg tepat tersuguhkan dihadapan mataku. Kusandarkan tubuhku disofa ruang tv lalu kembali kuedarkan pandanganku keluar jendela. Sebuah ayunan yg terbuat dari kayu jati nampak kosong dan berdebu karena sudah lama tak digunakan, ayunan sederhana yg terletak dibawah pohon itu nampak tua dan tak terurus. Pikiranku melayang jauh, menerawang kemasa lalu.

Aku berlari sambil memegang seloyang kue coklat hasil eksperimenku hari ini, dengan langkah riang aku menuju taman belakang, membuka pintu yg terbuat dari kaca lalu tersenyum simpul kepada sesosok namja yg tengah memejamkan matanya dengan headset dikedua telinganya. Aku berjalan hati-hati, berusaha menyamarkan langkahku.

“OPPA!” kutarik headset yg menghalangi pendengarannya lalu berteriak tepat disebelah telinga kirinya, ia membuka matanya seketika dan berjengit kaget karena teriakanku yg terlampau keras itu. Aku hanya terkekeh pelan melihat wajahnya yg memerah.

“Ya! Eish” namja itu menggaruk telinganya yg sepertinya sedikit berdengung, sekali lagi aku tertawa melihatnya memasang wajah marah yg dibuat-buat.

“mianhe oppa ah aku buat kue coklat favoritmu” aku tersenyum manis sambil duduk disebelahnya, kuletakkan seloyang kue coklat dipangkuannya. Dia memandang kue buatanku lalu berganti memandang wajahku, wajahnya berkerut dan itu membuatku sebal. Ah pasti dia meragukan kemampuann memasakku, terlihat sekali dengan ekspresi wajahnya yg tidak yakin dengan hasil karyaku tersebut.

“oh ayolah oppa, tampilannya memang seperti itu” aku melirik kue buatanku yg sepertinya lebih mirip dengan gundukan itu “rasanya tak seburuk penampilannya” aku masih mencoba membujuk namja itu dengan senyuman termanis andalanku.

“ne, ne aku coba. Ca” ia menyuapkan sesendok kedalam mulutnya, aku menatapnya dengan harap-harap cemas. Oh jantungku berdebar rasanya seperti menunggu hasil ujian, aku harap rasanya kali ini akan baik-baik saja. Ia menoleh dan hanya menampakkan senyuman tipis dan ekspresi yg sulit kuartikan.

“enak? Bagaimana?” aku penasaran berat dengan rasanya, jujur saja aku juga belum mencicipinya karena aku sendiri sudah merasa kenyang begitu melihat penampilan luar kueku itu.

Kuhirup dalam-dalam oksigen disekitarku dengan rakus lalu kuhembuskan nafasku dengan kasar, air mata mulai berdesakan memenuhi kelopak mataku. Aku menepuk pipiku dengan sedikit kasar, mencoba menyadarkan pikiranku agar melepas segala kenangan yg mengingatkanku dengan namja itu.

Aku melangkah gontai, menyibak kain putih yg menutupi beberapa lampu dan meja makan. Kuedarkan pandanganku kesegala sudut rumah yg sudah kutinggalkan lebih dari 1 tahun yg lalu. Dan kini aku kembali, aku sendiripun tak tahu alasan apa yg membuatku ingin menempati rumah ini, bahkan aku belum dapat melepaskan bayangan namja itu. Wajahnya, senyumannya, tingkah lakunya masih terekam jelas dalam ingatanku. Bahkan mungkin kenangan itu dapat kembali dengan mudah dan membuat hatiku semakin sakit bila aku kembali kerumah ini. Entah kenapa, bila orang-orang bertanya apa alasannya, aku pun tak yakin apa aku bisa menjawabnya. Oh, kenapa perasaanku harus serumit ini.

Aku tersenyum getir, sedikit kugigit bibir bawahku guna menahan perih yg kini menyeruak keluar. Kutatap nanar sebuah kalung yg tergeletak dilantai, sedikit berdebu dan dingin, itulah kesan yg kudapat sesaat setelah aku memungun kalung berliontin sayap itu.

“ah, ternyata jatuh disini”

Aku mengangkat bantal satu persatu, menunduk dan menyisir kolong-kolong kasur, bahkan menggeser sofa ruang tv. Kehembuskan nafas jengkel karena tak menemukan apa yg kucari. Kusisingkan lenganku keatas dan menguncir rambutku sembarangan hingga menyisakan beberapa helai yg tak terikat.

“chagi cari apa?” tanya seorang namja tampan sembari menhempaskan tubuhnya disofa merah lalu menyalakan acara televise.

“kau lihat kalungku?” aku berdiri dihadapannya dan menatapnya dengan penuh harap.

Namja itu mengalihkan pandangannya dan menatapku “kalung? Kalung yg mana?” ia menaikkan sebelah alisnya. Ck, namja ini menjawab dengan pertanyaan, benar-benar tidak membantu. Aku mendengus sebal lalu berjalan menuju dapur dan kembali mencari kalungku disana.

“Kalung? Kalung seperti apa?” ia masih berteriak dari ruang tv, aku memutar bola mataku sebal. Dia benar-benar tak membantu, ah bodohnya aku bertanya pada namja pelupa seperti dia, sudahlah sepertinya aku memang harus mencarinya seharian ini dan hanya sendiri.

Author Pov

Suzy berjalan perlahan menuju kampusnya, ia menyusuri trotoar dengan pandangan kosong sepanjang jalan. Beberapa kali yeoja cantik dan tinggi itu menabrak pejalan kaki lainnya, namun ia hanya diam dan terus berjalan tanpa ada niat meminta maaf. Pandangan yeoja itu terlihat sayu saat ia tepat berada ditaman kampusnya, matanya terpaku pada satu titik, sebuah pohon besar disudut taman yg jauh dari kesan ramai.

Bayangan itu kembali lagi, berdesakan keluar hingga terputar seperti film yg sudah rusak. Suzy melihat dirinya sendiri sedang membaca sambil bersandar dipohon, tangan kirinya memegang buku dan tangan kanannya menggenggam segelas susu strawberry kesukaannya. Ia tersenyum, tersenyum ada halusinasinya sendiri. Menatap betapa bahagianya dia dulu. Kini seorang namja yg sudah sangat ia hapal berjalan dan duduk disebelah dirinya yg satunya. Namja itu meraih buku berwarna merah yg ia pegang.

“oppaa, aku sedang membacanya” rengek Suzy pada namja tampan yg masih setia menjauhkan bukunya, sekali lagi yeoja cantik itu hanya dapat tersenyum tipis dan menahan rasa rindu yg membuncah saat melihat bayangan masa lalunya yg terputar dihadapannya.

Suzy menggelengkan kepalanya, ia menarik kembali kesadarannya lalu berjalan menuju kelas yg akan dimulai 20 menit lagi. Dilihatnya seorang namja tinggi menjulang berlari kecil kearahnya, segera ia membalikkan badan dan memutar arah, berharap namja itu tak menyadari keberadaanya.

“Suzy-ssi” teriak namja itu, ah sial ia terlambat berlari dan menghilangkan jejaknya hingga namja yg kerap dipanggil Chanyeol itu sudah memanggil namanya dengan suara lantang.

“bukankah kelas sebentar lagi dimulai, kajja kita kesana bersama” tanpa izin ataupun angukan kepala Suzy namja itu sudah menarik pergelangan tangannya dan menyeretnya kekelas yg terletak dilantai dua. Yeoja berambut panjang itu hanya memandangi tangan kokoh yg terus menggenggam pergelangannya,, ocehan namja tinggi yg bagaikan burung itu seperti tertelan angin, semua terasa hampa baginya.

…………………………

Sekali lagi Suzy harus merasakan kehampaan dan kesunyian dihari yg begitu cerah itu sendirian, yeoja itu duduk melamun dipojokan sebuah café yg dulu merupakan salah satu tempat favoritenya. Sudah lebih dari satu tahun ini ia tak menginjakkan kakinya kedalam café yg dulu tak pernah absen ia datangi tiap minggu. Setelah seorang waiters yg sudah ia kenal meletakkan pesanannya, Suzy meraih segelas jus strawberry dan meminumnya perlahan, menikmati setiap ingatan yg muncul.

“oppa, jus disini enak sekali” Suzy membelalakan matanya girang setelah ia mencicipi segelas jus strawberry. Namja yg duduk didepannya itu mengalihkan pandangannya dari layar handphone lalu mengerutkan dahinya.

“jinjja? Ah benar, enakkkk” namja itu mengacungkan kedua jempolnya keatas tanda setuju, Suzy mengangukkan kepalanya seraya mengeluarkan eyesmile andalannya.

“mulai sekarang café ini adalah café favoriteku. Kita wajib kesini setiap minggu” Suzy memasang aegyo berharap namjachingunya itu menyetujui usul kekanak-kanakannya. Namja itu memicingkan matanya namun seketika ia tersenyum lembut dan mengangukkan kepalanya, Suzy bersorak girang hingga beberapa pengunjung memandanginya.

……………………….

Chanyeol Pov

Aku masih setia membaca setiap jengkal kata-kata yg tertulis dibuku tebal bersampul hitam ditanganku. Huft, kenapa tugas dari Jung saem begitu sulit, bila saja aku secermat Chen tentu saja aku dengan mudah memahaminya, andai saja otakkku seencer Suzy pasti dengan mudah pula aku menyelesaikan tugas guru galak itu. Hah, terlalu banyak berandai-andai. Kudongakkan kepalaku sejenak, lalu sekelebat bayangan yg kuyakini itu adalah Suzy tertangkap oleh indra pengelihatanku. Dengan segera, kututup buku sialan ini dan berlari mengejar Suzy.

Yeoja itu sangat cantik dilihat darimanapun, bahkan dari belakang yg hanya kelihatan rambut panjangnya yg tergerai itupun sudah membuat jantungku berdebar. Aku memegangi dadaku, dan tersenyum bodoh menatap punggung Suzy dari belakang. Dug, dug, aku bisa gila bila seperti ini. Park Chanyeol sadarlah, jangan terhanyut terlalu dalam.

Aku terus mengikutinya dari belakang, tersenyum bodoh walau hanya memandang yeoja itu dari belakang. Mataku tak bisa beralih darinya sedetik pun, aku tak tahu sejak kapan perasaan seperti ini muncul setiap aku melihat Suzy, bahkan aku tak ingat sejak kapan aku tertarik pada yeoja judes itu. Tapi yg kutahu satu, aku menyukainya.

“Hujan….” Suzy bergumam kecil seraya mengadahkan tangannya keudara, aku masih setia menguntit yeoja itu, berdiri agak jauh dari tempatnya saat ini, memandangnya diam-diam dan menunggunya sampai ia masuk kedalam bus yg selalu ia naiki bila pulang dari kampus. Kuedarkan pandanganku, tak banyak orang yg sedang menunggu dihalte saat ini. Hanya dua orang yeoja sma, aku dan Suzy.

Author Pov

“hah…” Suzy menghela nafas kasar untuk yg kesekian kalinya, ia memandang sendu jalanan dihadapannya yg nampak sepi karena hujan mengguyur cukup deras, diangkatnya sekali lagi tangan kanannya. Ia memejamkan matanya, menikmati setiap tetes air yg jatuh dan menyentuh pori-pori kulitnya. DINGIN. Satu kata yg ia rasakan, ia membuka matanya dan tersenyum miris. Oppa bogoshipo.

Chanyeol masih setia mengamati yeoja cantik yg berdiri tak  jauh darinya, ia mengerutkan dahinya heran saat melihat ekspresi sedih yeoja cantik berambut panjang itu, memang Suzy tak pernah tersenyum, ah lebih tepatnya ia selalu miskin ekspresi. Tapi yeoja itu juga tak pernah menunjukan muka sedih seperti itu. Demi apapun Chanyeol benar-benar penasaran, segala tentang Suzy benar-benar membuatnya memeras otak khawatir.

“tanganmu tak dingin?” tanya Chanyeol lembut setelah ia menggeser tubuhnya beberapa langkah, namja itu memutuskan mengajak bicara Suzy. Diam dan mengamati yeoja itu bukan gayanya.

Suzy menurunkan tangannya dan tersentak kaget, ia menoleh menatap Chanyeol datar, namja didepannya itu hanya menggerutu pelan melihat ekspresi datar Suzy yg selalu didapatnya. Tak bisakah ia mendapat ekspresi berbeda, jujur saja ia benci tatapan tanpa emosi, kosong dan hampa itu. Tak cocok dengan manic mata indah Suzy, yah begitulah menurut Chanyeol.

“lihat wajahmu bahkan pucat, pasti kau kedinginan” Chanyeol meraih tangan Suzy, menempelkan kedua tangan dingin itu kepipinya agar lebih hangat. Suzy hanya diam, diam tanpa ekspresi, tak ada niatan menarik tangannya ataupun menghentakkan tangan Chanyeol. Ia menatap namja tinggi didepannya dengan tatapan kosong, sekelebat bayangan masa lalu muncul kembali.

“dingin sekali” Suzy mengusap-usapkan tangannya lalu meletakkannya dikedua pipinya sendiri, ia terus meniup tangannya berharap rasa dingin itu dapat berkurang barang sedikit. Ia mengedarkan pandangannya, hujan turun begitu deras, dalam hati yeoja itu merutuk cuaca menyebalkan seperti ini.

“aku benci hujan. Arghh dingin sekali” yeoja itu mengeratkan mantel bulunya lebih erat seraya berteriak tak jelas.

Seorang namja tampan berjalan dari kejauhan dengan paying kuning kesayangannya, ia tersenyum senang saat mendapati yeoja yg dicarinya sedang berteduh dihalte sendirian. Dengan perlahan namja itu mendekati yeoja cantik yg nampak menggerutu sendirian.

“changi” panggil namja itu saat ia sudah berada tepat disamping Suzy, yeoja itu menoleh, senyuman merekah diwajah dinginnya.

“oppa! Kau menjemputku eoh” ujar Suzy girang saat mendapati namjachingunya sudah berdiri disampingnya dengan paying kuning pemberiannya 2 bulan yg lalu. Namja itu menganguk seraya tersenyum lembut.

“kau sudah pulang? Apa tak ada jam kuliah lagi?” heran Suzy karena biasanya namjachingunya itu masih setia dikampus jam-jam segini, ya namjanya itu memang seorang mahasiswa, umur mereka terpaut 3 tahun.

“aniyo, kajja kita pulang” namja itu menggeleng lalu memagang tangan Suzy, mengajaknya untuk segera pulang.

“chankamma oppa, lihat hujannya deras sekali. kau hanya bawa 1 payung. Nanti kalau kau basah dan sakit bagaimana? Kita tunggu sampai hujannya lebih reda ne?” ujar Suzy panjang lebar.

“ne, ne.” namja itu hanya menganguk-angukan kepalanya, ia tersenyum senang memandang Suzy. Walau kadang yeoja itu akan cerewet seperti tadi, namun dibalik semua sikap itu Suzy selalu mengkhawatirkan dirinya.

“kapan hujannya reda?” gerutu Suzy sambil mengadahkan kedua tangannya keudara, ia menangkap setiap tetes air yg turun.

“eish, tanganmu nanti dingin” namja itu menarik tangan Suzy dan mengambil sapu tangan hitam disakunya. Ia mengelap tangan putih yeoja itu dengan sabar, Suzy memandang perlakuan manis namjanya dengan senyuman bahagia.

“masih dingin?” namja itu mendongak menatap Suzy, yeoja itu menganguk dan seketika namjachingunya itu menempelkan tangan Suzy dikedua pipinya. “lebih hangat?” tanyanya sekali lagi, Suzy terkekeh pelan seraya menganguk-angukan kepalanya.

“bisnya sudah datang” Suzy tersadar saat sebuah bus berhenti, ia segera menarik tanganya dari pipi Chanyeol. Tanpa mengucapkan apapun ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menaiki bus.

“sulit sekali eoh” gumam Chanyeol seraya memandang sendu bus yg perlahan melaju dan meninggalkannya yg masih berdiri dihalte. Ia tersenyum dan berjalan perlahan, meninggalkan halte menembus gerimis.

…………………….

Author Pov

Setelah bus yang Suzy tumpangi berhenti di halte dekat kompleks rumahnya, yeoja itu segera turun. Kakinya melangkah secara perlahan menyusuri jalanan yang sudah sangat sepi. Sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri, kepalanya mendongak melihat mobil asing berplat nomer dari Busan. Matanya terbelalak tak percaya dengan pengelihatannya sendiri saat seorang namja keluar dari mobil bewarna hitam tersebut, dari kejauhan Suzy dapat melihat dengan jelas sosok tegap itu walau jarak meraka sangat jauh.

Dadanya bergemuruh antara senang dan kacau, air matanya seakan-akan meledak keluar saat ini juga, berdesakan seiring dengan debar jantungnya yang semakin cepat. Ia berlari sekuat tenaga, namun saat yeoja itu berada 10 meter jauhnya namja itu telah berlalu pergi, mengendarai mobilnya dan meninggalkan Suzy yang berusaha mengejar mobil hitam itu.

“OPPAAAA, STOPP, OPPAAA” teriaknya seiring mobil yang semakin menjauh, Suzy terdiam saat mobil hitam namja yang dipanggilnya oppa itu berbelok diujung jalan. Ia jatuh terduduk dengan tangis yang sudah tak dapat ia bendong lagi.

“oppaaaa” air matanya berlomba-lomba keluar, harapannya pupus, ia tak tahu harus bagaimana lagi. “kau berjanji akan menemuiku dirumah ini oppa” Sesaat ia merasa penantiannya akhirnya berbuah hasil saat melihat sosok itu datang, namun semua sirna karena nyatanya namja itu tak berniat menemuinya.

Dari kejauhan Chanyeol melihat Suzy yang kini sedang menangis, keadaannya begitu mengenaskan dan menyedihkan, ingin rasanya ia berjalan merengkuh yeoja itu kedalam pelukannya. Menenangkan yeoja yang ia sukai dan menghapus air mata nya, namun ia sadar bahwa ia bukan siapa-siapa bagi Suzy. Bahkan Chanyeol tak yakin apakah Suzy mengenalnya atau tidak.

Ia menghembuskan nafas berat, melangkah pergi meninggalkan Suzy yang masih menangis sesengukan sambil terduduk, “sepertinya aku harus menyerah” Chanyeol tersenyum tipis memandang langit sore yang berwarna keoren-orenan.

………………………..

Suzy mengerutkan dahinya heran mendapati sebuah pesan masuk di hanphonenya, dari nomer tak dikenal. Sesaat ia berpikir apa dirinya mempunyai pengagum rahasia, tapi rasa-rasanya itu hal yang konyol.

Datanglah kegereja XX pukul 9 a.m

“apa-apaan ini? Apa pesan nyasar?” pikirnya sembari meneguk segelas air putih yang berada dinakas samping tempat tidurnya. Ia mengabaikan pesan singkat yang menurutnya aneh itu lalu beranjak menuju kamar mandi.

Suzy memandang gereja yang berdiri kokoh beberapa meter dari tempatnya berdiri, dirinya sendiri tak percaya bahwa ia menuruti permintaan aneh bin ajaib nomer yang sama sekali tidak ia kenali. Perasaannya tak enak, seperti suatu hal buruk akan terjadi.

Ia berbalik hendak pulang dan kembali tidur dibawah selimutnya, “tapi sudah sampai sini, lebih baik aku masuk” Suzy berbalik kembali lalu melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju pintu masuk gereja.

Gereja ini cukup besar dan megah, didepan pintu masuknya terdapat beberapa hiasan bunga yang sangat cantik “apa sedang ada acara pernikahan?” gumamnya.

Suzy sampai ditangga teratas, beberapa langkah ia sampai didepan pintu masuk, alisnya berkerut mendapati orang-orang yang memadati tempat duduk didalam gereja. Ia melihat seorang yeoja tengah berjalan perlahan menuju altar, gaun putih gadingnya yang berhiaskan batu swarosvki nampak cantik dan elegan.

“yeppo” gumamnya tanpa sadar, saat pengantin wanita itu sampai di altar barulah ia sadar seseorang yang sangat ia hapal tengah berdiri ditempat yang sama dengan pengantin itu. Tangan yang biasa menggenggam tangannya terulur kedepan memegang tangan orang lain, bukan dirinya.

Suzy diam tak bergeming melihat wajah tampan itu tengah tersenyum teduh, tatapannya penuh dengan kebahagian. Suzy membekap mulutnya sendiri, tak percaya dengan kejadian didepan matanya.

Kekasihnya yang ia tunggu selama ini tengah mengucapkan janji didepan altar bersama yeoja lain. “ Kim Jongin, apa kau bersedia menerima Park Jiyeon sebagai istrimu?” namja itu menatap yeoja didepannya dengan penuh cinta, lalu menganguk perlahan “Ya, aku bersedia”

Dunianya seakan runtuh, jantungnya berdetak tak beraturan, meletup-letup, air matanya berhamburan keluar melihat hal yang begitu menyakitkan. Suzy tak menduga Kim Jongin yang ia tunggu meninggalkannya dan mengikat janji dengan orang lain. Ia berbalik, meinggalkan acara pernikahan yang disambut sorak gembir dari tamu-tamu yang datang.

Dengan langkah tergesa ia meninggalkan area geraja, menghiraukan teriakan orang-orang yang ia tabrak tanpa sengaja. Langkahnya nampa terburu-buru hingga yeoja itu tak memperhatikan lampu merah berganti mejadi hijau, beberapa orang nampak berteriak memperingatkannya yang menyebrang jalan begitu saja.

TINN TINN

Suzy menoleh mendapati suara berisik, matanya terbelalak saat sebuah mobil melaju kearahnya hingga ia tak bisa bergerak karena pikirannya yang sedang kacau.

“AWAS” tubuhnya seakan tertarik kebelakang, ia memejamkan mata pasrah apabila tubuhnya tertabrak mobil. BRUK.  Matanya masih terpejam, yeoja itu merasa heran karena tak merasa kesakitan sama sekali dan sejak kapan aspal tidak keras? Ia membuka mata, merasakan sebuah tangan bertenger dikepalanya, matanya menangkap sebuah kemeja bewarna biru tua.

“Gwenchana?” suaranya yang berat nampak khawatir, Chanyeol mendongak kebawah menatap yeoja yang kini berada didalam pelukannya.

“ne, ne, emm ghamsahamida” Suzy membungkukan tubuhnya setelah namja itu melepaskan pelukannya, Chanyeol mengusap tengkuk kepalanya salah tingkah. “ah ne, sama-sama” jawabnya sembari tersenyum ramah.

Chanyeol menatap yeoja yang kini berjalan menjauh, is mengikuti Suzy sejak menemukan yeoja itu berdiri didepan gereja tempat kakak perempuannya melangsungkan pernikahan. Tanpa sadar namja itu meninggalkan acara yang belum selesai saat melihat Suzy menangis diujung pintu masuk.

“apa hubungan Suzy dengan Jongin hyung?” Chanyeol nampak berfikir keras, menyambungkan kejadian saat mobil kakak iparnya itu berhenti dirumah Suzy beberapa menit lalu Suzy yang dua kali menangis. “apa mereka pernah… hemmm” ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.

……………………………….

Suzy memandang langit malam yang berhias bintang dari jendela kamarnya, ia duduk di kursi yang berada dibelakangnya sembari memegang secangkir coklat hangat. Membayangkan wajah namja yg sangat ia rindukan beberapa tahun belakangan, seseorang yang selalu ia nantikan kehadirannya dan membawa kembali senyum ceria serta kebahagiaannya. Lalu wajah namja itu berganti dengan kejadian tadi pagi, Suzy tersenyum miris mengingat betapa bahagianya wajah Jongin. Ia menggelamkan wajahnya dibalik bantal.

“YA! Eishh oppa kau mengagetkanku” Suzy menoleh kebelakang saat sepasang tangan memeluknya dari belakang, Jongin tersenyum manis membuat Suzy mencubit pipi kanannya gemas. Kepala namja itu bersandar dipundak Suzy, hembusan nafasnya terasa menggelitik membuat Suzy menggeliat geli.

“oppa hentikan” rengeknya.

“aku punya hadiah untukmu” Suzy seketika menoleh kembali kebelakang saat namjanya menyebutkan kata hadiah.

“jinjja?”

“ehemm” Jongin menganguk-angukkan kepalanya sembari tersenyum teramat manis. Tiba-tiba ia menarik tangan Suzy, menyematkan sebuah cincin sederhana dijari yeoja itu. Suzy yang masih kaget tak menduga mendapatkan hadiah yang tak pernah ia bayangkan.

“oppa, kau melamarku?” tanyanya konyol.

“ani” Suzy mengerucutkan bibirnya sebal mendengar jawaban namja itu, heol jadi untuk apa ia diberi cincin. “ini sebagai pertanda bahwa kau milikku” namja itu memegang tangan Suzy, menciumnya tepat dicincin pemberiannya.

“eiyyyy”

Suzy memutar-mutar cincin pemberian kekasihnya, memandang benda bulat itu penuh kesedihan. “oppa kau melupakanku dan janjimu eoh” ujarnya lirih sembari mengangkat cincin pemberian Jongin. Tangannya terulur membuka jendela dihadapannya, sesaat ia menghirup udara  malam yang sedikit memberikannya kesejukan.

“selamat tinggal oppa”

Cincin itu melayang jauh, ya Suzy membuang  benda yang selama ini mengukuhkan penantiannya, benda yang menguatkan hatinya untuk tetap setia dan menunggu namja yang tak pernah tahu bahwa Suzy masih menantikannya.

THE END
Uwaaaaa, sungguh ini cerita absurd parah dan gagal total, wkwkwkw. Aku geli sendiri waktu bikin ceritanya. Berharap gak ada yg enek baca ff aku, wkwkw. Udah gitu aja sih, bingung mau nulis apa hahahaha.

Advertisements

8 thoughts on “Waiting

  1. Eits jong in, sebenarnya mereka sudah putus atau putus sepihak?
    Kalau gini kan kasian suzy, kenapa engga dipersatukan sama chan aja.
    Karya lainnya ditunggu ^^

  2. dasar jongin nappeun…
    Masih penasaran eon kenapa jongin tiba2 ninggalin suzy…awalnya aku pikir jongin meninggal…eeee…ternyata dy malah nikah sama yeoja lain….kagetnya lg nikahnya sm nunnanya chanyeol
    kasihan uri suzy pdhl dy setia banget nunggu jongin…
    Suzy-ah km sm chanyeol aja, otthe…????
    need sequel nih eon kekeke….masih banyak hal yang bikin penasaran…dan pengennya suzy juga bahagia…
    so far bahagia for chanzy walaupun disini suzy blm jelas nanti sm chanyeol apa ga…
    #chanzycuoplejjang#myfavoritecouple#exozyshipperhappy
    ditunggu ff exozy lainnya eon…fighting…

  3. Eishh thor, aku butuh sequel. Aku masih agak bingung knp jongin ninggalin zyeonn huftt trus knp jongin malah nikah sm jiyeon? Pokoknya aku masih bingung thor hehehe. Sequel ne? Jebal???

  4. Sedih, kasihan Suzynya… apa alasan Jongin meninggalkan Suzy dan malah menikah dengan yeoja lain? dan siapa jg yg meminta Suzy datang ke gereja? kalau itu Jongin, berarti dia benar2 jahat…
    Semoga Suzy bisa menemukan namja yg lebih baik dari Jongin, dan mungkin saja itu Chanyeol, berharap Suzy jg menemukan kebahagiaanya…
    Ceritanya bagus, walaupun sad ending… ditunggu ff lainnya, gomawo author 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s